Saudaraku semua yang dirahmati Allah, seringkali kita melihat di sekitar kita fenomena yaitu meratapi jenazah secara berlebih-lebihan, ada yang meraung-raung sampai mukanya memerah, ada yang mencakar-cakar pakaiannya, bahkan ada yang menangis berminggu-minggu dan sebagainya. Bagaimana Islam menyikapi fenomena ini? Berikut ini penjelasannya.
Salah satu kemungkaran besar yang dilakukan oleh sebagian orang adalah meratapi jenazah secara berlebihan. Misalnya dengan menangis sejadi-jadinya, berteriak sekeras-kerasnya, meratap mengharu-biru kepada mayit, memukuli muka sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian, menggunduli rambut, menjambak-jambak atau memotongnya. Semua perbuatan tersebut menunjukkan ketidakrelaan terhadap taqdir, di samping menunjukkan tidak sabar terhadap musibah.
Nabi shalalallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang suka melakukan ratapan berlebihan kepada mayit. Abu Umamah radhiallahu‘anhu meriwayatkan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang mencakar mukanya, merobek-robek bajunya serta berteriak dan berkata, “Celaka dan binasalah aku .”( HR. Ibnu Majah, 1/505; Shahihul Jami’, 5068.)
Dan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, yang merobek-robek pakaian dan yang menyeru dengan seruan Jahiliyah.”
(HR. Al Bukhari, lihat Fathul Bari, 3/163.)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Wanita yang meratap, jika tidak bertaubat sebelum ia meninggal, kelak pada Hari Kiamat akan dibangkitkan dengan pakaian dari cairan tembaga dan mantel dari kudis.”( HR. Muslim, no. 934.)
(Dari kitab "Muharramat Istahana Bihan Naas" karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid)
Na'udzubillahi min dzalik, semoga kita semua tidak termasuk di dalamnya. Allahumma Aamiin.

0 komentar:
Posting Komentar