APA ITU NEOLIBERALISME????????????????????

Perkenankan saya mulai dengan pertanyaan
sederhana : “ Apa yang ekstrem dari tata ekonomi pasar-bebas seperti di
Chile pada masa rezim Pinochet sehingga disebut ‘Neo-Liberal’ ? ”.



itu membawa kita mundur sejenak ke masa sekitar 75 tahun lalu. Kisahnya
tidak berawal di Chile atau Amerika Latin, tetapi di Jerman pada dasawarsa
1930-an, ketika istilah ‘Neo-Liberal’ muncul. Seperti setiap peristiwa
sejarah, kisahnya tentu tidak semiskin ringkasan berikut ini.

Di
awal dasawarsa 1930-an, Jerman mulai diburu hantu Fascisme yang membawa
suasana ganjil campuran antara totalitarianisme dan kolektivisme. Dalam
suasana itulah, sekawanan ahli ekonomi dan hukum yang terkait dengan
Universitas Freiburg mulai mengembangkan suatu gagasan ekonomi-politik
liberal yang kemudian disebut ‘Mazhab Freiburg’. Para anggota mazhab ini berkumpul di
sekitar pemikir Walter Eucken (1891-1950) dan Franz Böhm (1895-1977). Penyebaran gagasan mereka dilakukan
melalui jurnal Ordo (kurang
lebih berarti ‘tatanan’), yang diterbitkan dari kota Düsseldorf.

Itulah
mengapa gagasan mereka kemudian disebut ‘Mazhab Ordo-Liberal’ . Ordo-Liberal
sering kali juga disebut ‘Neo-Liberal’, tetapi dalam pengertian sangat
berbeda dari arti ‘neo-liberal’ dewasa ini. Awalan ‘neo’ (baru) dipakai
untuk membedakan diri dari liberalisme abad ke-18 dan ke-19, dengan
memasukkan kritik dari gagasan sosialisme.

Pemikiran
Mazhab Ordo-Liberal menjadi cikal-bakal desain ‘ekonomi pasar-sosial’ (soziale Marktwirtschaft) yang
kemudian melandasi pembangunan ekonomi Jerman Barat setelah Perang Dunia
II.

Gagasan
Ordo-Liberal dipandu oleh pertanyaan konkret begini : apabila persoalan
kaum liberal di abad ke-18 dan ke-19 adalah bagaimana menciptakan kebebasan
ekonomi dalam tata-negara yang tidak bebas, masalah kaum liberal di paroh pertama
abad ke-20 adalah bagaimana mendirikan tata-negara dalam suasana kebebasan
ekonomi yang sudah ada.

Cukup
pasti persoalan ini mencerminkan kegelisahan para pemikir Ordo-Liberal atas
kekosongan bangunan tata-negara di Jerman yang luluh-lantak setelah
kekalahan Nazi dan kejatuhan Hitler.

Singkat
cerita, hasilnya adalah filsafat ‘ekonomi pasar sosial’.

Pertama,
di jantung filsafat Ordo-Liberal adalah gagasan anti-naturalistik tentang
ekonomi pasar. Artinya, ‘pasar’ (market)
bukan peristiwa alami seperti musim semi atau tsunami, tetapi satu dari
beragam relasi yang diciptakan manusia. Karena itu, pasar dapat dibentuk,
dihancurkan, dan diubah menurut desain kita.

Masalah
sentral bukan apakah ‘pasar’ bebas atau tidak-bebas –pasar yang tidak-bebas adalah contradictio in terminis– tetapi
bahwa kinerja pasar selalu butuh Vitalpolitik,
yaitu tindakan politik membentuk nilai-nilai moral dan kultural bagi
pengadaan barang/jasa ekonomi, dan sekaligus untuk mencegah kolonisasi
prinsip ekonomi pasar atas bidang-bidang moral dan kultural.

Tujuan Vitalpolitik adalah
menciptakan sederetan kondisi bagi kinerja pasar secara adil. Namun, itu
juga berarti pemisahan tegas antara ‘ekonomi’ dan ‘politik’ merupakan ilusi.

Kedua,
karena pasar merupakan salah satu relasi yang diciptakan untuk membantu
pengadaan kebutuhan barang/jasa bagi hidup-bersama, dinamika perubahan
sosial tidak dapat diserahkan kepada kinerja pasar tanpa kerangka
tata-sosial.

Itulah
mengapa Ordo-Liberal menolak determinisme perubahan menurut dalil ekonomi
ala laissez-faire dan juga Marxisme ortodoks. Bagi
Ordo-Liberal, fokus perdebatan tentang perubahan bukan terletak dalam
pertanyaan sejauh mana bidang/relasi sosial-politik- kultural digerakkan oleh
ekonomi pasar (seperti dalam neo-liberalisme sekarang), tetapi sejauh mana
kinerja pasar membantu terjadinya ‘kontrak sosial’.

Dalam
arti ini, premis Ordo-Liberal tentang manusia bukanlah homo
oeconomicus, tetapi homo socialis.

Ketiga,
berdasarkan premis itu, agenda transformasi ekonomi terletak dalam upaya
mengubah kapitalisme secara terus-menerus menurut visi ‘kontrak sosial’.

Gagasan
Ordo-Liberal berjalan dalam tegangan antara individualitas kebebasan dan
sosialitas tatanan. Tugas
tata-pemerintahan melalui berbagai kebijakan adalah menjaga tegangan itu,
dan bukan menghapus salah satu kutub dengan menerapkan komando sentral
ataupun menyerahkan pembentukan tatanan sosial kepada kinerja pasar.

Sentralisme
ala Soviet bukanlah akibat alami dari utopia sosialitas tatanan, dan gejala
konsentrasi kekuasaan bisnis di tangan perusahaan-perusaha an raksasa juga
bukan nasib alami kinerja pasar.9 Keduanya
adalah produk strategi ekonomi-politik yang gagal.

Pokok-pokok
itu mungkin terasa membosankan. Dan gerutu kita berisi pertanyaan : “Apa
kaitan semua itu dengan soal neo-liberalisme dalam pengertian dewasa ini ?”..

Begini
ringkasnya. Sebagaimana setiap mazhab tidak berisi keseragaman gagasan,
begitu pula di dalam jaringan Ordo-Liberal terdapat beberapa sekte
pemikiran. Jaringan Ordo-Liberal dihuni oleh banyak pemikir yang terutama
terkait dengan Mazhab Freiburg (Jerman) dan Universitas Chicago (Amerika
Serikat).10 Dalam
perkembangan selanjutnya, keragaman pemikiran mereka terbelah ke dalam
sekurangnya tiga aliran ekonomi.

Sekte pertama
biasanya disebut kaum ‘Liberal Sosial’ (Social Liberals), berkumpul di sekitar pemikir Karl Schiller.

Mereka
percaya bahwa ekonomi pasar harus dijalankan untuk pengadaan berbagai
barang/jasa, meskipun tidak semua. Tetapi mereka juga punya kecurigaan
mendalam terhadap kecenderungan perluasan prinsip pasar ke bidang-bidang
lain.

Maka
mereka menggagas, kompetisi ekonomi harus dijalankan sejauh mungkin, tetapi
bila kompetisi membawa konsentrasi kekuasaan dan marginalisasi, intervensi
harus dilakukan melalui regulasi.

Bagi
anggota kelompok ini, sistem ekonomi yang baik adalah ‘ekonomi-pasar yang
dikawal regulasi’ (regulated
market economy).

Sekte kedua
terdiri dari para pemikir inti Ordo-Liberal seperti Eucken dan Böhm.

Mereka
menaruh kecurigaan ganda baik terhadap intervensi lewat regulasi, maupun
pada ciri alami kompetisi pasar.

Antara
pendulum intervensi-regulasi dan kompetisi-alami, mazhab ini menggagas
ekonomi pasar bukan sebagai relasi yang terpisah dari semesta relasi
politik, kultural dan sosial, melainkan “tertanam” dalam semesta
relasi-relasi itu.

Kunci
pendekatan ekonomi bukan terletak dalam ‘regulasi’, dan juga bukan pada
‘tangan tak kelihatan pasar’, tetapi dalam kerangka institusional yang
membuat relasi-relasi ekonomi, kultural, politik, hukum serta moral
terjalin erat satu sama lain sebagai tatanan sosial.

Ekonomi
yang baik adalah ‘ekonomi pasar sosial’ (social market economy).

Sekte ketiga
terdiri dari para pemikir ekonomi Mazhab Austria (seperti Friedrich von
Hayek) dan Mazhab Chicago (seperti Milton Friedman) yang berjaring dengan
Mazhab Freiburg.

Inilah
mazhab yang kemudian disebut kaum ‘libertarian’.

Mereka
mulai dari premis bahwa semua bentuk tatanan yang baik terbentuk secara
spontan dari prinsip kebebasan, dan kebebasan itu hanya terlaksana dalam
tatanan yang terbentuk dari relasi-relasi spontan. Ekonomi pasar-bebas
adalah locus dan model spontanitas serta kebebasan
itu, dan semua bentuk ekonomi planning adalah “jalan menuju perbudakan”.

Oleh
karena itu, segala batasan politik, kultural, sosial, dan hukum serta
regulasi pemerintah harus se-minimal mungkin. Andaipun dilakukan, aturan
hanya boleh bersifat ‘negatif’. Artinya, “jangan campur tangan”. Hak atas
hidup, misalnya, diartikan sebagai hak untuk tidak dibunuh, dan bukan hak
atas pangan.

Sistem
ekonomi yang baik adalah ‘ekonomi pasar bebas’ (free market economy).

Dari
gagasan mazhab Libertarian inilah kemudian berkembang arti Neo-Liberalisme
dalam pengertian seperti sekarang.

Penggerak
utamanya adalah para ekonom yang terkait dengan Universitas Chicago setelah
Perang Dunia II, seperti Milton Friedman, Friedrich von Hayek, Gary Becker,
George Stigler.

Keterkaitan
awal mereka dengan para pemikir Ordo-Liberal –yang juga sering diberi nama
‘Neo-Liberal’– membuat mereka kemudian disebut ‘kaum Neo-Liberal mazhab
Chicago’.

Syahdan,
para mandarin kebijakan ekonomi rezim Augusto Pinochet adalah sekelompok
ekonom Chile murid para libertarian di Universitas Chicago ini. Itulah yang
rupanya membuat para pejuang demokrasi di Amerika Latin lalu menyebut para
“Chicago boys” ini sebagai
kaum neo-liberal.

Begitulah
metamorfosis istilah dalam kekusutan kisah sejarah. Penyulut kontroversi
tentulah bukan soal peristilahan, tetapi gagasan mazhab ini yang kemudian
menyusup ke dalam berbagai kebijakan. Dengan itu kita sampai pada inti dari
apa yang dimaksud Neo-Liberalisme dewasa ini.
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan.

0 komentar:

Posting Komentar