Wanita tua dibawah lampu Temaram,,,

Sebuah cerita ringan yang terjadi pada suatu malam..
tepatnya ketika ortu saya ada di luarkota,,
karena itu adalah saat yang tepat supaya saya bisa pulang malam tanpa perizinan ketat seperti biasanya,,
(i'm sorry mom, but now i'm not teenage again,,)
Kejadian ini bermula saat ide gila tiba2 muncul dalam benak saya untuk jalan2 naek motor puter2 Bandung larut malam,,
Kira2 jam 10 malam itu, mumpung ga ada ortu, saya ngajak Uki beli perkedel bondon di stasiun,,
ga tau kenapa penasaran aja pengen nyobain makanan khas para kupu2 malam itu.
Waktu menunjukan sekitar pukul set11 malam ketika saya melintas tepat dipinggir jalan didepan terminal angkot, belakang stasiun kereta...
Dari kejauhan mata saya langsung tertuju pada sesosok wanita berusia sekitar 65tahun,
mungkin kira2 seumur nenek saya. yang menarik perhatian saya, bukan hanya karena dia nenek-nenek,,tapi penampilannya itu lhooooo...(ayo bayangin)
Bukan..bukan pakaian seksi seperti yang kalian pikir kan?
tapi...yang ia kenakan adalah kebaya warna hijau muda lengkap dengan kain sinjang dan selendang yang tergerai di bahu...
tentu saja sanggul rapi dengan sasakkan sempurna tak lupa make up lengkap-pun menghiasi wanita berusia paruh baya ini.
Bener2 sempurna khas wanita Sunda tempo dulu...cantik..mirip bunda waljinah kalau mau seriosa...
Ia terlihat sedang berbincang, dengan teman perempuannya yang sama2 berusia lanjut, yang beda temanya itu, ga pake kebaya tapi dress terusan selutut ala tahun 70an.
Melam itu suasana masih agak rame,,ga terlalu sepi,,masih ada beberapa tukang gorengan nongkrong di tempat itu.
Ada sebuah kejanggalan memang ketika melihat sosok nenek berkebaya hijau itu, tapi suer deh,ga ada pikiran negatif sama sekali, cuman sebatas pemikiran “ah mungkin dia baru pulang dari kawinan”, atau ada acara musik sunda yang digelar digedung dekat daerah situ.
Jadi spontan saja yang terucap saat itu adalah “ngapain nenek2 itu pake kebaya”?
terduga sebelumnya,Uki malah jawab,”ga tau tuh emang tiap kali aku lewat sini malem2 nenek2 itu suka ada disitu...
Jawaban spontan yang mengagetkan saya,, saya kira nenek2 tadi cuman kebetulan lagi nunggu angkot baru pulang dari pagelaran seni...
tapi ternyata...
emang itu tempat nongkrongnya ntiap malam...
tau kan maksud saya apa?
Nenek tua tadi ternyata sama saja dengan cewek seksi dan menor yang berdiri di kegelapan pinggir jalan banceuy dan sekitarnya...
nenek berkebaya rapih itu, ternyata seprofesi dengan para wanita yang sering kita lihat sedang melakukan “lobi dan negosiasi” dengan para pria di kegelapan malam di depan toko2 yang sudah tutup itu...
Ya Allah, saya bener2 sedih...
walaupun merasa miris melihat wanita2 muda itu menjadi pemuas nafsu lelaki hidung belang, tapi melihat fenomena ini membuat saya lebih miris,,syok lebih tepatnya...
Karena penasaran, saya maksa uki sampe 4 kali putaran, melewati tempat nenek itu nongkrong, kali ini saya perhatiin dia lebih dekat,,semakin dekat...
pura2 beli gorengan yang terpaksa saya beli walaupun udah dingin...
aroma parfum sangat menyengat tiba2 tercium hidung saya,
ternyata itu berasal dari nenek tua itu,
yang melintas tepat di hadapan saya.
wangi parfum yang lebih tepatnya minyak nyongnyong itu memang semerbak banget,
kecium sampe radius 10 meter, mungkin karena tiupan semilir angin malam...
semakin membuat saya pusing dibuatnya.
Dalam pikiran saya, kenapa nenek itu ko ga tobat2 sih...
kenapa ga ambil pensiun muda aja kaya pegawai2 negeri zaman sekarang...
atau karena puncak kariernya terlambat?
Klise kalau ngomongin alesan karena dorongan kebutuhan ekonomi...
atau karena hobi?
Atau karena dia ingin menjalankan prinsip marketing yang baik?
mencari segmentasi terbatas untuk memenuhi kekosongan pasar?
Bisa jadi kaya gitu sih, karena nenek tua yang terlihat masih sehat dan segar itu, kayaknya sadar betul, kalau kini kebutuhan pasar pada segmentasi “too old” terbilang kurang,
karena didominasi oleh para wanita muda atau ABG.
Sebuah fenomena yang mengiris batin saya,
diberikan kesehatan dan umur panjang hingga berusia setua itu,
masih belum membuatnya sadar...
Kebutuhan ekonomi selalu saja menjadi alasan basi...
Disisi lain banyak pererempuan yang berjuang untuk mempertahankan harga diri,
memperjuangkan hak dan kehormatannya,
tapi disisi lain banyak yang sengaja menjadikan tubuhnya sebagai komoditi,
bahkan komoditi eksport hingga merajah ke manca negara,
tanpa mengenal batasan usia..fenomena seperti ini masih ada di sekitar kita...

2 hari kemudian..saya lewat lagi jalan itu,,
ya...sang nenek yang kini berkebaya merah itu masih ada...
saat itu,seorang pria tak terlalu tua (sekitar 40 tahunan) terlihat sedang berbincang dengannya diatas motor bebek tepat di pinggir jalan terminal,,,
huuuuufhhhh,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

0 komentar:

Posting Komentar