new trick facebook

Ne bukan sesuatu yang aku dapat sendiri, trik ini baru dapet dari salah satu milis yang aku ikutin…Siapa tau bisa bikin kalian senang…he..he…Silahkan dicoba yaa…

1. Di halaman Facebook, coba klik dimana aja…terserah…

2. tekan tombol pada keyboard dengan urutan :

atas-atas-bawah-bawah-kiri-kanan-kiri-kanan-b-a-enter

3. Trus, tunggu bentar…

4. Gmn? Udah keliatan bedanya kan?seru lho…

Konon, ini adalah salah satu “konami-code” yang juga berhasil di beberapa situs dan game yang lain. Kata “wiki”, sih…


1. Go to Google

2. Click images

3. Type 'flowers' or any other word.

4. You will get a page which is having full of images

5. Then delete the URL from the address bar and paste the below script:

javascript:R= 0; x1=.1; y1=.05; x2=.25; y2=.24; x3=1.6; y3=.24; x4=300; y4=200; x5=300; y5=200; DI= document.images; DIL=DI.length; function A(){for(i=0; i
6. See the magic!!!

JENU KERJAAAAA?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika tidak pernah merasa jemu dalam pekerjaan, mungkin kita belum cukup lama menjalaninya. Sebab, agak aneh juga jika hal-hal rutin yang kita lakukan dalam jangka panjang masih bersifat 'biasa-biasa' saja. Bukahkah kita merasa jemu jika hidup kita menjadi datar? Sebaliknya, 'percikan-percikan' kecil bisa memberi nuansa yang lebih berwarna bagi perjalanan karir kita. Jadi, jika suatu saat kelak menemui kejemuan; tidak perlu terlalu risau. Karena sesungguhnya hal itu merupakan pertanda yang mengirim sinyal supaya kita mendefinisikan ulang premis-premis hidup yang selama ini dipegang teguh.

Kadang-kadang kita keliru mengartikan kejemuan sebagai sinyal untuk berpindah. Sehingga kalau kita merasa jemu, hal pertama yang terpikirkan adalah; bagaimana menemukan pekerjaan baru? Padahal, dalam banyak situasi kita tidak benar-benar pindah kepada pekerjaan yang sungguh-sungguh baru. Melainkan sekedar kepada 'tempat' baru. Faktanya, kita pindah ke perusahaan lain untuk mengerjakan pekerjaan yang sama. Jika saya orang marketing di perusahaan A, saya pindah ke perusahaan B dengan fungsi sebagai tenaga marketing juga. Sebagai engineer handal diperusahaan C, saya pindah ke perusahaan D untuk menjadi engineer juga. Akuntan, pindah tempat untuk menjadi akuntan juga. Dan sebagainya. Hanya sedikit perusahaan yang mau menerima kita untuk melakukan sesuatu yang benar-benar 'baru' sehingga kita bisa mulai lagi dari nol besar.

Padahal tidak semua kejemuan terhadap pekerjaan bisa diobati dengan perpindahan. Boleh jadi yang sesungguhnya kita butuhkan adalah menantang diri sendiri untuk berkreasi. Membuat sesuatu yang baru dengan tugas kita sehari-hari. Sebut saja itu sebagai 'perpindahan micro', yaitu perpindahan dari mengerjakan sesuatu sebatas rutinitas menjadi 'tempat melahirkan' gagasan-gagasan baru. Dengan begitu, kita selalu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk 'melakukan hal-hal baru'. Sebab, hal baru bisa menjadi jawaban atas kejemuan. Dan lebih dari itu perusahaan tempat kita bekerja pun mendapatkan kegembiraan yang tiada tara. Sebab, ketika anda berubah dari karyawan yang tengah dilanda oleh kejemuan menjadi karyawan yang haus untuk melahirkan inovasi demi inovasi; maka perusahaan itu menjadi semakin tidak tertandingi. Bayangkan, jika semua karyawan diperusahaan menjadi seperti itu? Tidak terhingga dampak positif yang ditimbulkannya bukan?

Sekarang bayangkan lagi; jika anda bisa menjadi motor penggerak inovasi diperusahaan seperti itu. Kira-kira keuntungan apa yang bisa anda dapatkan? Pertama, anda terbebas dari kejemuan itu. Kedua, anda bisa menjadi role model bagi orang-orang yang anda pimpin dan rekan-rekan lain. Ketiga, anda bisa menjadi pilihan utama jika perusahaan harus memilih seseorang untuk diberi tanggungjawab yang lebih besar. Keempat, perusahaan tidak akan membiarkan anda pergi begitu saja. Kelima, halah banyak sekali keuntungan yang anda bisa dapat itu rupanya?

Sebaliknya, jika anda memilih untuk menjadi karyawan yang membiarkan diri terpenjara oleh kejemuan itu. Cepat atau lambat, kinerja anda akan menurun. Sehingga para pendatang baru akan mengambil alih pamor yang selama ini anda miliki. Dan ketika itu terjadi, sangat logis jika perusahaan menganggap anda sebagai masa lalu.

Jadi, situasi mana yang anda pilih?

ISI NEGARA YANG STREZZ!!!!!!!!!!!

Entah kenapa, dari semenjak kedatangannya ke Indonesia hingga sekarang, masih saja ada orang-orang yang menggunakan Internet sebagai inspirator otak mesum-nya. Tapi tentu saja, dewasa ini pengguna internet sudah lebih banyak yang paham tentang fungsi internet yang sebenarnya. Namun bukan berarti pecinta bokep/gambar porno sudah tidak ada lagi, hanya sedikit menciut saja. Apalagi semenjak dikeluarkannya UU Anti Pornografi/Pornoaksi oleh pemerintah.

Berdasarkan pengamatan saya, akhir-akhir ini pemerintah mulai melonggar dengan UU yang telah mereka keluarkan sendiri. Sudah tidak se-hot yang mereka galakkan dulu, ketika pertama kali UU itu ditetapkan. Silahkan saja anda coba sendiri di “google”, keyword-keyword berikut ini :

* bokep
* sex
* seksi
* bugil
* telanjang
* lucah
* sma
* gadis
* skandal
* perawan
* perkosa
* gangbang
* dll…

Sepertinya menjadi keyword-keyword yang paling sering di cari. Anda dapat menganalisanya sendiri lewat http://google.com/trends. Yang parahnya, gerakan-gerakan yang dulu amat aktif sekarang ini juga jadi ikut-ikutan “loyo”. Seharusnya, mereka tetap exist dan bisa menjadi pengamat pemerintah dalam menerapkan UU Antipornografi/Pornoaksi ini.

Belum lagi animo “oknum-mesum” tersebut untuk mengkoleksi gambar, cerita, apalagi film-film “miskin” itu yang kian boros. Bayangkan saja, dalam satu hari, mereka bisa menghabiskan 3 GBps bandwith yang ada…deuh..!!! parah..!! Mungkin ini juga yang menyebabkan semakin banyaknya prostitusi dan pelecehan seksual yang terjadi di bangsa kita sekarang ini…Intinya, melalui tulisan ini saya mengajak kita semua, bangsa Indonesia, untuk menghindari penggunaan Internet sebagai inspirator mesum atau hal-hal yang tidak berguna lainnya. Mari kita menuju bangsa yang terus meningkatkan ilmu menggunakan internet….

APA ITU NEOLIBERALISME????????????????????

Perkenankan saya mulai dengan pertanyaan
sederhana : “ Apa yang ekstrem dari tata ekonomi pasar-bebas seperti di
Chile pada masa rezim Pinochet sehingga disebut ‘Neo-Liberal’ ? ”.



itu membawa kita mundur sejenak ke masa sekitar 75 tahun lalu. Kisahnya
tidak berawal di Chile atau Amerika Latin, tetapi di Jerman pada dasawarsa
1930-an, ketika istilah ‘Neo-Liberal’ muncul. Seperti setiap peristiwa
sejarah, kisahnya tentu tidak semiskin ringkasan berikut ini.

Di
awal dasawarsa 1930-an, Jerman mulai diburu hantu Fascisme yang membawa
suasana ganjil campuran antara totalitarianisme dan kolektivisme. Dalam
suasana itulah, sekawanan ahli ekonomi dan hukum yang terkait dengan
Universitas Freiburg mulai mengembangkan suatu gagasan ekonomi-politik
liberal yang kemudian disebut ‘Mazhab Freiburg’. Para anggota mazhab ini berkumpul di
sekitar pemikir Walter Eucken (1891-1950) dan Franz Böhm (1895-1977). Penyebaran gagasan mereka dilakukan
melalui jurnal Ordo (kurang
lebih berarti ‘tatanan’), yang diterbitkan dari kota Düsseldorf.

Itulah
mengapa gagasan mereka kemudian disebut ‘Mazhab Ordo-Liberal’ . Ordo-Liberal
sering kali juga disebut ‘Neo-Liberal’, tetapi dalam pengertian sangat
berbeda dari arti ‘neo-liberal’ dewasa ini. Awalan ‘neo’ (baru) dipakai
untuk membedakan diri dari liberalisme abad ke-18 dan ke-19, dengan
memasukkan kritik dari gagasan sosialisme.

Pemikiran
Mazhab Ordo-Liberal menjadi cikal-bakal desain ‘ekonomi pasar-sosial’ (soziale Marktwirtschaft) yang
kemudian melandasi pembangunan ekonomi Jerman Barat setelah Perang Dunia
II.

Gagasan
Ordo-Liberal dipandu oleh pertanyaan konkret begini : apabila persoalan
kaum liberal di abad ke-18 dan ke-19 adalah bagaimana menciptakan kebebasan
ekonomi dalam tata-negara yang tidak bebas, masalah kaum liberal di paroh pertama
abad ke-20 adalah bagaimana mendirikan tata-negara dalam suasana kebebasan
ekonomi yang sudah ada.

Cukup
pasti persoalan ini mencerminkan kegelisahan para pemikir Ordo-Liberal atas
kekosongan bangunan tata-negara di Jerman yang luluh-lantak setelah
kekalahan Nazi dan kejatuhan Hitler.

Singkat
cerita, hasilnya adalah filsafat ‘ekonomi pasar sosial’.

Pertama,
di jantung filsafat Ordo-Liberal adalah gagasan anti-naturalistik tentang
ekonomi pasar. Artinya, ‘pasar’ (market)
bukan peristiwa alami seperti musim semi atau tsunami, tetapi satu dari
beragam relasi yang diciptakan manusia. Karena itu, pasar dapat dibentuk,
dihancurkan, dan diubah menurut desain kita.

Masalah
sentral bukan apakah ‘pasar’ bebas atau tidak-bebas –pasar yang tidak-bebas adalah contradictio in terminis– tetapi
bahwa kinerja pasar selalu butuh Vitalpolitik,
yaitu tindakan politik membentuk nilai-nilai moral dan kultural bagi
pengadaan barang/jasa ekonomi, dan sekaligus untuk mencegah kolonisasi
prinsip ekonomi pasar atas bidang-bidang moral dan kultural.

Tujuan Vitalpolitik adalah
menciptakan sederetan kondisi bagi kinerja pasar secara adil. Namun, itu
juga berarti pemisahan tegas antara ‘ekonomi’ dan ‘politik’ merupakan ilusi.

Kedua,
karena pasar merupakan salah satu relasi yang diciptakan untuk membantu
pengadaan kebutuhan barang/jasa bagi hidup-bersama, dinamika perubahan
sosial tidak dapat diserahkan kepada kinerja pasar tanpa kerangka
tata-sosial.

Itulah
mengapa Ordo-Liberal menolak determinisme perubahan menurut dalil ekonomi
ala laissez-faire dan juga Marxisme ortodoks. Bagi
Ordo-Liberal, fokus perdebatan tentang perubahan bukan terletak dalam
pertanyaan sejauh mana bidang/relasi sosial-politik- kultural digerakkan oleh
ekonomi pasar (seperti dalam neo-liberalisme sekarang), tetapi sejauh mana
kinerja pasar membantu terjadinya ‘kontrak sosial’.

Dalam
arti ini, premis Ordo-Liberal tentang manusia bukanlah homo
oeconomicus, tetapi homo socialis.

Ketiga,
berdasarkan premis itu, agenda transformasi ekonomi terletak dalam upaya
mengubah kapitalisme secara terus-menerus menurut visi ‘kontrak sosial’.

Gagasan
Ordo-Liberal berjalan dalam tegangan antara individualitas kebebasan dan
sosialitas tatanan. Tugas
tata-pemerintahan melalui berbagai kebijakan adalah menjaga tegangan itu,
dan bukan menghapus salah satu kutub dengan menerapkan komando sentral
ataupun menyerahkan pembentukan tatanan sosial kepada kinerja pasar.

Sentralisme
ala Soviet bukanlah akibat alami dari utopia sosialitas tatanan, dan gejala
konsentrasi kekuasaan bisnis di tangan perusahaan-perusaha an raksasa juga
bukan nasib alami kinerja pasar.9 Keduanya
adalah produk strategi ekonomi-politik yang gagal.

Pokok-pokok
itu mungkin terasa membosankan. Dan gerutu kita berisi pertanyaan : “Apa
kaitan semua itu dengan soal neo-liberalisme dalam pengertian dewasa ini ?”..

Begini
ringkasnya. Sebagaimana setiap mazhab tidak berisi keseragaman gagasan,
begitu pula di dalam jaringan Ordo-Liberal terdapat beberapa sekte
pemikiran. Jaringan Ordo-Liberal dihuni oleh banyak pemikir yang terutama
terkait dengan Mazhab Freiburg (Jerman) dan Universitas Chicago (Amerika
Serikat).10 Dalam
perkembangan selanjutnya, keragaman pemikiran mereka terbelah ke dalam
sekurangnya tiga aliran ekonomi.

Sekte pertama
biasanya disebut kaum ‘Liberal Sosial’ (Social Liberals), berkumpul di sekitar pemikir Karl Schiller.

Mereka
percaya bahwa ekonomi pasar harus dijalankan untuk pengadaan berbagai
barang/jasa, meskipun tidak semua. Tetapi mereka juga punya kecurigaan
mendalam terhadap kecenderungan perluasan prinsip pasar ke bidang-bidang
lain.

Maka
mereka menggagas, kompetisi ekonomi harus dijalankan sejauh mungkin, tetapi
bila kompetisi membawa konsentrasi kekuasaan dan marginalisasi, intervensi
harus dilakukan melalui regulasi.

Bagi
anggota kelompok ini, sistem ekonomi yang baik adalah ‘ekonomi-pasar yang
dikawal regulasi’ (regulated
market economy).

Sekte kedua
terdiri dari para pemikir inti Ordo-Liberal seperti Eucken dan Böhm.

Mereka
menaruh kecurigaan ganda baik terhadap intervensi lewat regulasi, maupun
pada ciri alami kompetisi pasar.

Antara
pendulum intervensi-regulasi dan kompetisi-alami, mazhab ini menggagas
ekonomi pasar bukan sebagai relasi yang terpisah dari semesta relasi
politik, kultural dan sosial, melainkan “tertanam” dalam semesta
relasi-relasi itu.

Kunci
pendekatan ekonomi bukan terletak dalam ‘regulasi’, dan juga bukan pada
‘tangan tak kelihatan pasar’, tetapi dalam kerangka institusional yang
membuat relasi-relasi ekonomi, kultural, politik, hukum serta moral
terjalin erat satu sama lain sebagai tatanan sosial.

Ekonomi
yang baik adalah ‘ekonomi pasar sosial’ (social market economy).

Sekte ketiga
terdiri dari para pemikir ekonomi Mazhab Austria (seperti Friedrich von
Hayek) dan Mazhab Chicago (seperti Milton Friedman) yang berjaring dengan
Mazhab Freiburg.

Inilah
mazhab yang kemudian disebut kaum ‘libertarian’.

Mereka
mulai dari premis bahwa semua bentuk tatanan yang baik terbentuk secara
spontan dari prinsip kebebasan, dan kebebasan itu hanya terlaksana dalam
tatanan yang terbentuk dari relasi-relasi spontan. Ekonomi pasar-bebas
adalah locus dan model spontanitas serta kebebasan
itu, dan semua bentuk ekonomi planning adalah “jalan menuju perbudakan”.

Oleh
karena itu, segala batasan politik, kultural, sosial, dan hukum serta
regulasi pemerintah harus se-minimal mungkin. Andaipun dilakukan, aturan
hanya boleh bersifat ‘negatif’. Artinya, “jangan campur tangan”. Hak atas
hidup, misalnya, diartikan sebagai hak untuk tidak dibunuh, dan bukan hak
atas pangan.

Sistem
ekonomi yang baik adalah ‘ekonomi pasar bebas’ (free market economy).

Dari
gagasan mazhab Libertarian inilah kemudian berkembang arti Neo-Liberalisme
dalam pengertian seperti sekarang.

Penggerak
utamanya adalah para ekonom yang terkait dengan Universitas Chicago setelah
Perang Dunia II, seperti Milton Friedman, Friedrich von Hayek, Gary Becker,
George Stigler.

Keterkaitan
awal mereka dengan para pemikir Ordo-Liberal –yang juga sering diberi nama
‘Neo-Liberal’– membuat mereka kemudian disebut ‘kaum Neo-Liberal mazhab
Chicago’.

Syahdan,
para mandarin kebijakan ekonomi rezim Augusto Pinochet adalah sekelompok
ekonom Chile murid para libertarian di Universitas Chicago ini. Itulah yang
rupanya membuat para pejuang demokrasi di Amerika Latin lalu menyebut para
“Chicago boys” ini sebagai
kaum neo-liberal.

Begitulah
metamorfosis istilah dalam kekusutan kisah sejarah. Penyulut kontroversi
tentulah bukan soal peristilahan, tetapi gagasan mazhab ini yang kemudian
menyusup ke dalam berbagai kebijakan. Dengan itu kita sampai pada inti dari
apa yang dimaksud Neo-Liberalisme dewasa ini.
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan.

marriii berbagi SEMANGATTTT "GAMARIMASHOOO"

Pernahkah Anda merasa sedemikian malasnya untuk melakukan sesuatu? Seolah-olah kita kehilangan gairah. Seluruh otot tubuh kita seakan enggan untuk digerakan. Apalagi jika ditambah dengan hati yang gundah. Rasa lemas ini menjadi semakin bertambah parah. Kemanakah perginya semangat itu?

Pagi itu music media player saya tengah memutar salah satu lagu pavorit. Rupanya, visual modenya diset pada tampilan skin mode view. Hasilnya, dilayar komputer saya muncul sebuah window berisi indikator gelombang suara berupa bar-bar yang bergerak naik dan turun. Ketika frekuensi nada sedang tinggi, maka ketinggian bar itu bertambah. Sedangkan ketika alunan nada itu turun maka bar itupun ikut turun. Dan karena gelombang suara pada musik itu terus berubah, maka tinggi dan rendah setiap bar yang mewakili setiap gelombang suara yang dihasilkannya juga berubah naik dan turun.

Saya jadi teringat dengan sang semangat itu. Rupanya, seperti bar-bar indikator nada itu; semangat memang tidak statis. Dia bersifat dinamis. Dia bergerak naik dan turun. Sehingga, kalau semangat kita sedang turun, itu tidak selalu merupakan indikasi buruk. Sebab, selama kita masih bisa menaikkannya kembali; maka itu tidak akan menjadi masalah serius. Bayangkan seandainya musik yang Anda dengar tidak memiliki nada-nada rendah. Maka semua bar nada akan diam, atau terus meninggi. Sehingga musik itu terdengar monoton, dan semakin lama semakin memekakan telinga. Keindahan musik itu, justru timbul dari naik dan turunnya irama dan nada untuk membentuk sebuah komposisi musik yang anggun. Bukankah hidup juga demikian? Naik dan turunnya semangat adalah gambaran dinamika hidup. Kita tidak perlu terlampau mengkhawatirkannya, selama senantiasa bersedia untuk menaikkannya kembali.

Tetapi, bukakah bagus jika semangat kita tetap tinggi? Mungkin memang bagus. Tetapi, apakah itu 'mungkin' bagi ukuran manusia seperti kita? Semangat merupakan gambaran rasa hati. Jika kita sedang berduka, atau bersuka cita; maka itu akan tercermin dalam semangat kita. Jika kita memiliki semangat yang terus-menerus tinggi, layak dipertanyakan; apakah kita menjalani kehidupan ini secara normal? Misalnya, dalam keadaan berduka, bar indikator semangat manusia secara normal akan bergerak kebawah. Sedangkan ketika kita sedang bersukacita, bar itu naik kembali. Jika kita tidak pernah berduka, ada dua kemungkinan; kita tidak pernah kehilangan. Apakah berupa kehilangan orang yang kita cintai, benda-benda yang kita sukai, atau harapan kita yang kandas. Kemungkinan kedua, kita bukan manusia yang berperasaan, sehingga semua yang terjadi tidak mempengaruhi jiwa kita. Bukankah kedua kemungkinan itu bukan untuk manusia normal? Bahkan seorang motivator paling hebat sekalipun tidak dapat lari dari fitrah ini.

Jadi, bagaimana seandainya kita tengah memasuki periode berkurangnya semangat itu? Diri sendiri memang merupakan sumber paling ampuh untuk mengembalikan semangat itu. Itulah sebabnya, mengapa ada orang-orang yang bisa segera menaikkan kembali semangatnya tanpa bantuan orang lain. Dan hal itu bisa dilakukan dengan beberapa langkah berikut ini:

Pertama, menerima fakta bahwa naik dan turunnya semangat merupakan hal yang normal sebagai bagian dari dinamika hidup. Dengan demikian, kita tidak menyalahkan diri sendiri ketika kehilangan semangat. Sebab menghukum diri tidak pada tempatnya hanya akan semakin membenamkan kita kepada keterpurukkan yang semakin dalam.

Kedua, memahami penyebab menurunnya semangat kita. Pemahaman terhadap akar masalah membantu kita untuk menyelesaikan sumber utamanya, sehingga kita bisa melakukan langkah yang tepat untuk mengurangi efek negaitfnya.

Ketiga, memfokuskan diri kepada tujuan atau sesuatu yang ingin kita raih. Mengharapkan segala sesuatu yang kita inginkan agar tercapai dengan mudah tidaklah cukup bijaksana. Bahkan orang paling berpengaruh dan paling kaya seduniapun tidak mungkin bisa mendapatkan 'semua' keinginannya. Sehingga untuk itu, kita mesti berjuang. Dan perjuangan bukanlah perjuangan jika bisa kita lakukan dengan cara yang mudah. Jika itu terlalu mudah, mungkin karena tujuan kita kurang menantang. Sedangkan kesulitan yang kita hadapai mengindikasikan bahwa tujuan kita itu cukup berbobot.

Keempat, bergaul dengan orang-orang yang bersedia untuk berbagi semangat. Itu berarti bahwa ada kalanya Anda berkesempatan untuk menerima tambahan semangat dari orang lain. Dan pada saat lain, Anda bersedia untuk untuk berbagi semangat kepada mereka. Sebab, didunia ini; tidak ada satu manusiapun yang benar-benar bisa berdiri sendiri. Jika Anda bisa berdiri sendiri, misalnya; mengapa Anda masih mengharapkan orang lain membeli produk Anda? Keinginan kita untuk berbisnis pun menunjukkan kebutuhan kita kepada orang lain. Selama kita belum memutuskan untuk melepaskan segala hal duniawi dan memilih untuk bersemedi, maka kita masih membutuhkan orang lain.

Kita tahu bahwa musik hanya bisa dihasilkan dari kombinasi beragam nada yang naik dan turun silih berganti; sehingga nada-nada itu bisa saling mengisi dan melengkapi. Kehidupan kita juga hanya bisa dibangun dari kesediaan untuk meramu naik dan turunnya semangat yang kita miliki. Dan itu merupakan panggilan bagi kita, untuk saling berbagi semangat satu sama lain.

Mari Berbagi Semangat!

BELAJAR DARI MONYETTT?????

Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik
berburu monyet di hutan-hutan Afrika.
Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si
pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.
Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet- monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.
Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit.
Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma.
Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang.
Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah
dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya di sore hari.
Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabnya.
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari
setiap toples.
Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang,
monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak.
Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh
monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf.
Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi.
Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Teman, sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya.
Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum
tidur kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap
siapapun yang berinteraksi dengan kita.

Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah
dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya bersih.
Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak
itu?

INSPIRASI DIBULAN MEI BULAN PERLAWANAN RAKYAT

Menelusuri sejarah lalu di bulan Mei, maka akan kita temukan sebuah pengalaman luar biasa yang merupakan sebuah torehan sejarah, hasil dari gerak berlawannya rakyat. Mengilhami dari apa yang telah terjadi di masa lalu tersebut, bukan sebuah kesalahan dan seremonial belaka jika kita mengingat dan memperingatinya pada saat sekarang ini.

May Day

Bukan sekedar peringatan dan perayaan atas kemenangan leluhur pejuang kelas buruh yang berhasil memperjuangkan 8 jam kerja pada tahun 1886 di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat. Lebih dari itu, pada tanggal 1 Mei 1918, itulah saat pertama kali Hari Buruh Sedunia diperingati oleh rakyat Hindia Belanda/Indonesia, dan itulah saat pertama kali hari buruh diperingati di Asia. Berawal dari sebuah usaha meredam banyaknya gerak perlawanan rakyat pada masa penjajahan kolonial, yang kemudian direspon oleh pemerintahan kolonial Belanda dengan membuat sebuah “dewan rakyat” yang anggotanya diangkat oleh pemerintah Belanda. Menanggap keberadaan dewan rakyat ini tidak serta-merta mewakili kepentingan rakyat, berbagai organisasi yang ada pada saat itu seperti Sarekat Islam, Budi Utomo, Insulinde, Pasundan dan Perkumpulan Sosial Demokratis Hindia, membentuk Konsentrasi Radikal pada tahun 1918. Dan untuk melanjutkan bentuk perlawanan politiknya, berbagai macam serikat buruh yang ada pada waktu itu, di antaranya Perserikatan Guru Hindia Belanda, Perserikatan Pegadaian Pribumi, Serikat Buruh Pekerjaan Umum, Serikat Buruh Pabrik Gula, Serikat Buruh Percetakan, Sarekat Postel, Serikat Pegawai Kehutanan, dan Serikat Buruh Kereta Api (VSTP). melakukan mogok nasional pada tanggal 1 Mei 1918.

Satu Mei 2009, saat dimana penjajahan telah menemukan bentuk barunya dan penghisapan terhadap rakyat pekerja juga tak juga terhenti, berbagai serikat buruh mengulang kembali peringatan Hari Buruh Sedunia. Namun nuansa berbeda dapat kita imajinasikan dalam perbandingannya di peringatan hari buruh 91 tahun lalu. Fragmentasi terlihat semakin mengerucut, antara mereka yang berjuang untuk kelasnya dan mendorong gerakan ini kepada arah yang politis, dengan mereka yang hanya terus berkutat pada kesadaran normatif dan terjebak pada momen pemilihan umum. Untuk ke-4 kalinya, Aliansi Buruh Menggugat (ABM) melakukan aksi di depan Istana Presiden yang merupakan simbol kekuasaan pemerintah Indonesia. Tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan 91 tahun lalu, saat ini pun ABM menyatakan bahwa keinginan buruh untuk mendapatkan hak dasarnya dan mempropagandakan kekuasaan kelas pekerja sebagai solusi atas kondisi sosial-ekonomi- politik saat ini.

Hari Pendidikan Nasional

Yogyakarta, 2 Mei 1889. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Dan semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Setelah pulang dari pengasingan selama 5 tahun di negeri Belanda akibat kritik dan protesnya terhadap penjajahan belanda, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, National Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Dengan slogannya yang tidak asing, tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa) , ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Dan atas jasa-jasanya, pada tanggal kelahiranya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Seratus dua puluh tahun kemudian, 2 Mei 2009, tak lagi terasa hingar-bingar kesadaran untuk mengingat perjuangan mendapatkan pendidikan dan kemerdekaan. Negeri ini kembali mengulang suramnya pendidikan, saat hal tersebut hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki uang. Sementara bagi para rakyat pekerja yang secara ekonomi tak mengalami perubahan yang berarti, tak akan pernah mendapatkan pendidikan. Komersialisasi dan kapitalisasi dalam dunia pendidikan telah menggerogoti pondasi negeri ini, sementara kesadaran mereka yang muda dalam melihat pendidikan nasional tak dapat dibandingkan dengan Ki Hajar Dewantara. Hanya mereka yang datang ke depan Istana Negara, mereka yang berteriak-teriak menolak komersialisasi pendidikan lah yang dapat meneruskan apa yang telah dahulu dimulai oleh Ki Hajar Dewantara.

Kematian Marsinah

9 Mei 1993, seorang buruh perempuan asal Nganjuk Jawa Timur, bernama Marsinah ditemukan meninggal dengan luka-luka di tubuhnya. Dan menurut Dokter yang melakukan visum terhadap tubuh Marsinah, Marsinah diperkirakan meninggal satu hari sebelumnya, atau tepatnya 8 Mei 1993. Meninggalnya Marsinah ditengarai karena keterlibatanya bersama 12 orang temannya sesama buruh PT. Catur Putra Perkasa yang menuntut kepada perusahaan untuk menaikkan upah buruh dari Rp. 1.700 menjadi Rp. 2.250 dan tunjangan tetap Rp. 550 per hari, serta kebebasan berserikat bagi buruh.

Dan tepat pada tanggal 8 Mei 2009, ABM melakukan aksi peringatan 16 tahun meningalnya Marsinah di Bundaran HI. Dimana dalam aksi massa tersebut, mereka menggunakan topeng Marsinah dan membentangkan spanduk bertulisakan “Negara Harus Bertanggung Jawab Atas Kematian Marsinah dan Jadikan Marsinah Sebagai Pahlawan Nasional.” Aksi tersebut ditujukan untuk mengingatkan kepada publik akan kematian Marsinah yang sampai saat ini belum juga diselesaikan oleh negara. Dan memperjuangkan Marsinah sebagai pahlawan nasional adalah sebuah bentuk perjuangan kontra hegemoni, sehingga masyarakat secara umum dapat membandingkan dan melihat orang-orang yang mati karena memperjuangkan kepentingan masyarakat luas. Aksi damai tersebut kemudian disambung dengan mengadakan sebuah panggung budaya di pelataran LBH Jakarta.

Tragedi Trisakti dan Peristiwa Kerusuhan Massal di Jakarta

Ini adalah sebuah rentetan peristiwa besar yang terjadi di Jakarta menjelang jatuhnya Soeharto. 12 Mei 1998, ribuan mahasiswa Universitas Trisakti melakukan unjuk rasa untuk menuntut mundurnya Soeharto dari kekuasaan. Mereka bermaksud mendatangi gedung MPR/DPR, namun niat tersebut dihalangi oleh aparat keamanan yang menghadang tak jauh dari kampus Trisakti. Kemudian terjadi bentrokan antara aparat keamanan dengan mahasiswa, bahkan berujung dengan penembakan terhadap mahasiswa Trisakti yang berakibat meninggalnya 4 mahasiswa Trisakti. Pagi hari di tanggal 13-14 Mei 1998, saat kondisi di ibu kota semakin memanas terkait dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dan banyaknya demonstrasi mahasiswa menuntut turunnya Soeharto, sekelompok orang tak dikenal melakukan provokasi kepada masyarakat untuk melakukan penjarahan dan pembakaran berbagai tempat perbelanjaan. Bahkan di beberapa tempat kejadian, masih banyak orang-orang yang ada di dalam tempat perbelanjaan tersebut ketika terjadi pembakaran sehingga banyak jatuh korban. Tak hanya itu, kemudian juga muncul satu sentimen rasial anti China yang dilempar ke masyarakat yang berlanjut dengan banyak ditemukannya kasus pemerkosaan terhadap perempuan etnis China. Anehnya pada saat kejadian tersebut berlangsung, hanya ada sedikit aparat kepolisian yang berada di sekitar lokasi dan tak mampu berbuat apa-apa. Hal ini sengaja dilakukan untuk mengaburkan konflik yang ada sebelumnya antara masyarakat dengan negara di bawah pemerintahan diktator Soeharto.

12-13-14 Mei 2009. Berbagai unjuk rasa muncul di Jakarta. 12 Mei 2009 ribuan mahasiswa Trisakti mendatangi Istana Negara untuk menuntut penuntasan kasus tragedi Trisakti. 13-14 Mei 2009, sekelompok masyarakat yang merupakan korban dan keluarga korban kerusuhan di Jakarta, juga melakukan aksi menuntut hal yang sama. Aksi tersebut dilakukan di dua lokasi yaitu aksi ziarah ke makam para korban kerusuahan dan aksi tabur bunga di depan “Mall Jogja” di daerah Klender yang pada tahun 1998 terbakar dan merenggut banyak korban.

Lengsernya Soeharto

Pada 21 Mei 1998, rentetan aksi unjuk rasa yang berlangsung sebelumya, menemui titik puncaknya. Ratusan ribu mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta mendatangi gedung DPR/MPR dan berhasil menduduki gedung rakyat tesebut untuk menuntut turunya Soeharto. Aksi tersebut juga diikuti di berbagai daerah di Indonesia. Kejengahan rakyat atas semakin mahalnya kebutuhan bahan pokok akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia, serta maraknya praktek KKN yang melanda pemerintahan dan birokrasi negera, membuat jutaan rakyat Indonesia mendukung penuh apa yang menjadi tuntutan dari mahasiswa untuk melakukan reformasi total di negeri ini.

Ratusan kendaraan bermotor roda dua dan pengendara berbaju merah melakukan sebuah aksi konvoi dengan tema Napak Tilas Turunnya Soeharto. Melewati beberapa jalur dan tempat dimana masyarakat berkumpul dan melakukan aksi di tahun 1998, ABM membagikan selebaran dan orasi politik dalam aksi peringatan tersebut. Aksi tersebut kembali lagi untuk mengingatkan kepada rakyat Indonesia atas sebuah keberhasilan yang terjadi di tahun 1998, dimana rakyat Indonesia mampu menggulingkan kediktaktoran pemerintahan Soeharto.